Selasa, 10 Februari 2009

SEJARAH KOTA PATI 2

KAPAN BERDIRINYA KADIPATEN PATI ?

By Abdul Madjid

Sebentar lagi Pati akan memperingati hari jadinya, HUT yang ke 684. Namun penepatan tahun jadinya itu masih mengandung kontroversi dikalangan masyarakat, banyak yang mempertanyakan kapan dimulainya (start) Kadipaten Pati. Pro dan kontra terhadap berdirinya Kadipaten Pati, Berawal dari keinginan masyarakat untuk mengetahui hari jadi Kota Pati, Maka Bupati Pati Jaman Orde Baru Bapak Sunardji mengeluarkan Surat Keputusan (SK) No 003.3/869/1991 tanggal 19 November 1992, untuk mencari hari jadi Kadipaten Pati. Tim ini diketuai Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten, Ir. Haruman Anwar yang anggotanya terdiri dari kalangan pemerintah dan tokoh masyarakat.

Tim tersebut menelusuri jejak peninggalan Kadipaten Pati dengan mengadakan penelitian di Dukuh Tegal Kauman, Desa Gajian, Kecamatan Gunung Wungkal, yang terdapat Batu Prasasti “Berhuruf Pallawa”, ternyata peninggalan Jaman Raja Airlangga tertulis tahun saka 1260 (1204 M), namun tidak memberikan informasi tentang keberadaan Pati. kemudian merujuk ke peninggalan Makam Ki Ageng Ngerang di Desa Pakuwon Kecamatan Juana. Di samping itu tim juga mempertimbangkan letak geografis masa lalu, munculnya kerajaan Mataram Hindu pada abad VIII, Pati masih berupa lautan. Selain itu Tim melihat refrensi buku karya Dr HJ de Graff Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, bahwa di Jaman Mataram Hindu, ada keturunan Medang Kamulan bernama Sandang Garba yang menguasai kota pelabuhan “Jung Pura” (Jepara) dan “Cajongan” (Juana), namun tak menyinggung nama Kadipaten Pati.

Akhirnya Tim mengambil kesimpulan bahwa berdirinya Kadipaten Pati menggunakan Cerita Babad Pati, dimulai dari usaha penyatuan Kadipaten Carangsoko dan Kadipaten Paranggarudo dengan surya sengkala Mulat Gapura Manembah Gusti, konon kepindahannya dilakukan pada masa Kerajaan Majapahit yang kala itu diperintah Raja Jayanegara (1309-1328). Tim tersebut kemudian mengutak-atik kepindahan Kadipaten Pati dari Pesantenan ke Kaborongan dengan perhitungan hari baik, mempertimbangkan “Nagadina” dan “Nagatahun”, tradisi perhitungan hari di dalam masyarakat Pati sangat kental. Untuk menguatkan pendapat tersebut maka dicocokan dengan almanak Keraton Surakarta, sehingga ditemukan hari tanggal, bulan, dan tahun yakni Wuku Prabangkat, Dukut, Wulan (Bulan) Ruwah (Sya’ban)-Badra (Mangonsari). Sehingga di tulis diangka tahun saka 1245 (tata suci manembah aji), hari kamis (sesuai prasasti Tuhannaru) tahun masehi 1323, dengan surya Kaweruhing Manembah Budayaning Ratu. Yang ditulis lengkap di tahun masehi adalah Hari Kamis, 14 Agustus 1323.

Benarkah Kadipaten Pati berdiri pada hari Kamis, 14 Agustus 1323? Mengingat data-data yang dipakai untuk menandai tahun berdirinya berdasarkan rujukan dari cerita rakyat (tutur). Bisakah cerita tersebut dijadikan rujukan sebagai tanda tahun berdirinya sebuah kadipaten? sedangkan cerita rakyat adalah cerita yang berkembang di masyarakat. Cerita rakyat dibagi menjadi tiga golongan Mite (cerita yang dianggap benar terjadi dan suci), Legenda (cerita yang dianggap benar terjadi tetapi tidak dianggap suci) Dongeng (cerita yang tidak dianggap benar-benar terjadi dan tidak terikat waktu dan tempat). Babad Pati termasuk katagori cerita yang mana?

Menelusuri tahun berdirinya sebuah Kadipaten harus dengan melihat pada bukti2 peninggalan masa lalu, Berupa kota, pemerintahan, situs-situs makam, lambang, data Toponim. Cerita rakyat (tutur) bisa dijadikan sebagai data sejarah bila melalui uji Historiografi. Salah satunya bila pelaku/saksi yang terlibat dalam peristiwa/kejadian itu hidup sejaman? Sehingga dapat dilakukan metode cross ceking untuk menemukan kebenarannya dari sejarah lisan (Oral History), Data-data yang diperoleh kemudian dijadikan pedoman/rujukan. Namun ada beberapa sejarahwan idialis yang meniti beratkan pada bukti-bukti peninggalan, mereka mengkaji secara detail dalam pegungkapan kebenaran sejarah, mereka berprinsip NO DOCUMENT NO HISTORY.

Berdirinya Kadipaten Pati menggunakan rujukan Babad Pati yang belum jelas kerangka tahunnya. Cerita Babad Pati adalah teks sastra Jawa Klasik (diterbitkan Balai Peostaka tahun 1937 dengan nomor 1245). Teks ini berasal dari naskah bertulis tangan dan berhuruf Jawa, namun buku ini tidak memberi informasi mengenai asal-usul naskah, kapan ditulis dan kapan di transliterasikan. Cerita ini Berisi 16 bab dengan sub judul sendiri-sendiri. Babad Pati ini berbentuk tembang seperti Asmaradana, Dandanggula, Sinom, Durma, Kinanti, Gambuh, Pangkur, Mijil, Megatruh dan Pocung (tetembangan Mocopat sendiri adalah karya seni dari maestro walisongo).

Dalam Babad Pati terdapat tokoh-tokoh yang dianggap pernah ada di masa silam seperti Raden Menak Jasari, Dewi Ruyungwulan, Yuyu Rumpung, Dalang Sapanyana, Kembangjaya, Baron Sekeber, dengan tokoh-tokoh yang benar-benar ada seperti Jayakusumo, Panembahan Senopati. Berdasarkan isi dari Cerita Babad Pati, kemungkinan Babad Pati ditulis untuk menandingi penulisan keraton Mataram (Istanasentris), atau mungkin ditulis ketika Kadipaten Pati ditundukkan Kerajaan Mataram?

Kalau Melihat tahun hari jadi Kadipaten Pati yang begitu sangat tua, bisa dikatakan Pati telah mengalami perjalanan sejarah panjang. Namun tim kesulitan dalam menemukan sisa-sisa masa lalu (petilasan). Benarkah Kadipaten Pati berdiri sendiri, bersamaan dengan Kerajaan Majapahit? Melihat nama-nama penguasa Pati seperti Kembangjoyo, Tombronegoro, Tondonegoro mungkin bisa dikatakan status namanya sejajar dengan R. Wijaya, Jayanegara (sesuai dengan kasta Hindu). Kalau seandainya Kadipaten Pati dibawah kekuasaan Majapahit mungkin penguasanya akan menggunakan nama yang statusnya lebih rendah di bawah raja seperti Kebo...?, Gajah ...?. Bagaimana bila berada dalam kendali Kerajaan Pajajaran sesuaikah nama-nama Penguasa Pati tersebut? Dalang Soponyono hidup di Jaman apa? Hindu atau Islamkah? Andai di jaman Hindu berarti wayang yang dipakai wayang Hindu bukan wayang kulit jaman Walisongo, Pertunjukan wayang di jaman Hindu masih sederhana, selain itu yang menikmati pertunjukan wayang adalah keluarga kerajaan saja, tidak untuk kalangan rakyat biasa.

Masa Pemerintahan Tondonegoro ke Jaman Pemerintahan Ki Penjawi memiliki Selang waktu yang sangat lama (dua setengah abad). Siapa yang berkuasa pada Kadipaten Pati rentang waktu tersebut? Andai Kadipaten Pati sangat tua kenapa miskin peninggalan (tidak ada Prasasti)? Paling tidak ada warisan yang dapat dikaji oleh sejarahwan? Mengapa tim penyusun menggunakan tahun berdirinya kadipaten berdasarkan pertimbangan penyatuan Kadipaten Carangsoko dan Paranggarudo yang berada pada Babad Pati? kenapa tidak berdasarkan pada pemerintahan Ki Penjawi? Yang memiliki banyak data peninggalan. Kenapa Penepatan tanggal tahunnya menggunakan “Nagadino” dan “Nagatahun” yang disesuaikan dengan hari baik tradisi orang Pati?. Apakah ini bukan usaha menduga-duga yang kemudian harus dipaksakan dan diyakini kebenarannya sebagai sejarah? Kerja tim penyusun sangat terburu-buru, mungkin untuk arif dan bijaksana dalam melihat sejarah, kalau tim penyusun menelusuri dahulu siapa pengarang Babad Pati ? dan pada tahun berapakah Babad Pati ditulis?.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar