Selasa, 10 Februari 2009

Cerita Rakyat : Syeh Jangkung

VI

SYEH JANGKUNG

Saridin anak angkat Ki Ageng Kingiran, ia mempunyai satu saudara perempuan bernama Sumiyem,[1] putri Ki Ageng Kingiran memang mendambakan seorang adik laki-laki. Mereka berdua hidup rukun dibawa asuhan Ki Ageng Kiringan. Setelah dewasa Sumiyem diperistrikan oleh seorang laki-laki bernama Branjung, sedangkan Saridin dikawinkan dengan gadis bernama Sumirah. Ki Ageng Kingiran sudah tua, tidak meninggalkan apa-apa kecuali pohon Durian. Ki Ageng Kingiran berpesan,

“besuk saya bakal tidak ada, karena hanya meninggalkan satu batang pohon durian, lalu bagaimana membaginya?”. Lalu diputuskan kalau siang bagiannya Branjung sedang kalau malam bagiannya Saridin. Bila ada yang jatuh siang menjadi rejeki Branjung sedangkan kalau jatuh malam hari maka rejekinya Saridin. Ternyata durian tadi kalau siang tidak ada yang jatuh. Sedangkan kalau malam banyak yang jatuh. Branjung mulai merasa iri hatinya dan timbul dalam pikirannya ingin menyamar menjadi harimau untuk menakut-nakuti Saridin. Setelah merubah dirinya menjadi harimau maka segera memanjat pohon durian, saridin tahu kalau ada harimau di pohon durian segera ditombak kena dan mati. Setelah harimau mati, berubah lagi menjadi manusia. Maka kemudian Saridin telah melakukan pembunuhan atau Rajapati, maka oleh petinggi Kemiri dilaporkan pada Adipati Mangun Oneng. Saridin didakwa telah melakukan pembunuhan. Saridin mengelak tuduhan,

“saya tidak melakukan pembunuhan, saya hanya membunuh harimau”. Sumiyem saudara Saridin menggerutu

“eh..aku hanya mempunyai saudara satu saja terkena perkara besar”, maka ia mempunyai nadzar, bila nanti Saridin dapat kembali akan membuat cempedak dikasih asahan sak ambeng, kalau bisa kembali hidup.

Petinggi Kemiri berkunjung ke rumah istri Branjung, yang sedang seorang diri, karena diam-diam dia mencintainya (ada rasa). Karena Saridin orang sakti yang dapat merintangi keinginannya maka dia melapor kepada Dipati Mangun Oneng agar menghukum mati Saridin.[2] Dipati Mangun Oneng menyuruh Suro Gajah untuk melaksanakan hukuman mati tersebut.

“Kang Suro Gajah ini ada tugas untuk membawa Saridin ke hutan kemudian bunuh Saridin”

“lho aku tidak punya salah sama kamu kok, aku punya salah hanya sama gusti Dipati, kenapa kau harus membunuhku”

“Gak peduli pokoknya kamu harus aku bunuh” saridin ganti bertanya

“ Upamanya nanti saya tidak mau gimana apa boleh?

”Boleh, ini rasakan senjataku” Saridin tidak apa-apa gantian ia menagih janji, lalu dipukulah Suro Gajah oleh Saridin dan mati

“Nanti kalau tempat ini ramai akan kuberi nama Gajah Mati”

Petinggi Kemiri mengejar Istri Branjung, karena mengira Saridin sudah mati, adipati Mangun Oneng memanggil para punggawanya dan memerintahkan agar Saridin dihukum hari ini. Karena saktinya tahu-tahu Saridin muncul ketika Petinggi Kemiri hendak masuk ke kamar istri Branjung, petinggi segera melapor kepada Adipati. Dengan lembut para punggawa datang ke rumah Saridin,menyatakan

“Din karena kamu orang bersalah maka saya datang memberikan kesukaanmu, karena kebetulan saat ini ada rumah besar kosong maka kau boleh menempatinya, kalau kau ingin pulang kau bisa dipersilahkan, segala kebutuhanmu disediakan dan sudah ada yang disuruh.” Bujuk Adipati Mangun Oneng.

“ Ya..saya suka begitu “ Jawab Saridin

Saridin menjalani hukuman, petinggi Kemiri Kecewa,

“lha disuruh membunuh saja tidak mau” maka punya akal lagi, ia lapor ke Adipati Mangun Oneng, kalau Saridin tidak dihukum mati nanti akan berbahaya terhadap Kadipaten Pati.

Petinggi Kemiri setelah tahu Saridin ada di penjara maka mendatangi rumah istri Branjung. ternyata kelakuannya diketahui oleh Saridin lagi, karena dia sudah ada di rumah. Petinggi lapor lagi kepada Adipati kalau Saridin keluar dari Pakunjaran

“Ah masak iya, kowe ojo ngawur! Saridin sudah saya masukan ke Penjara..!”

Akhirnya Saridin dikejar-kejar sama orang-orang Pati. Saridin kemudian minggat dan minta restu kakaknya Sumiyem, Saridin minta dido’akan agar selamat. Sumiyem merestui kepergian Saridin, akan ketempat orang digdaya yakni Sunan Kudus, Saridin akan berguru dan menetap di Panti Kudus.[3]

“ Kamu siapa ?”

“Saya saridin.”

“Rumahmu mana ?”

“Saya dari Pati, ingin berguru dipadepokan Panti Kudus ”

“ Oh ya sudah, kalau gitu sana bekerja sama teman-temanya di belakang ”

Saridin ke belakang untuk bekerja, bersama dengan teman-teman seperguruan, akan tetapi semua pekerjaan telah di kerjakan oleh teman-temannya, Saridin dicuekin sama teman2nya, sehingga kebingungan mau kerja apa. Saridin melihat teman2nya membawa ember untuk mengisi bak mandi. Ia mau membantu temannya, namun embernya sudah kepakai semua, akhirnya Saridin melihat Keranjang untuk mencari rumput. Kemudian Saridin mengambil air dengan keranjang. Hal ini membuat temannya melaporkan kepada Sunan Kudus.

“ Din kenapa kamu mengambil air dengan keranjang, bukankah airnya bocor ” seketika airnya jatuh dari keranjang

“Tidak kanjeng Sunan ” airnya kembali ke keranjang.

“Bocor” Sunan Kudus membentak

“Tidak bocor” hal ini dilakukan sampai tiga kali antara Sunan Kudus dengan Saridin. Sunan Kudus bersikap arif terhadap Saridin.

“ya, sudah Din, kamu tidak usah mengambil air biar teman2mu yang mengerjakannya, kamu membersihkan kubangan air dibelakang biar lancar airnya.”

Saridin menuruti perintah Sunan Kudus, namun Saridin masuk ke dalam kubangan dengan tangannya mengapai dasarnya. Hal ini menjadi perhatian Sunan Kudus.

“ Din kamu kesini mau mengabdi sama saya, kok saya suruh bekerja kok gak mau! Kamu cari apa Din?”

“cari ikan”

“Lho disitu gak ada ikannya Din?”

“Kalau ada air pasti ada ikannya!”

“Kalau gitu di bak mandi dan tempat wundu apa ada ikannya Din?”

“ada, setiap ada air pasti ada ikannya!” sahut Saridin dan ternyata di bak mandi terdapat ikan.

“Kalau di buah kelapa yang diatas itu apa ada ikannya Din?” Saridin menengok ke atas pohon kelapa yang sangat tinggi.

“Ya, ada kanjeng sunan!” Kanjeng Sunan memerintahkan muridnya untuk memanjat pohon kelapa, tapi di tahan oleh Saridin biar Saridin yang melambai pohon kelapa tersebut agar mau diambil buahnya, seketika itu pohon kelapa menunduk diambilnya dua buah kelapa kemudian dibelah dan ternyata di dalam kelapa tersebut terdapat ikannya.

Sunan Kudus marah dan mengusir Saridin untuk tidak lagi menginjak bumi Panti Kudus. Akhirnya Saridin sembunyi di WC dan berdiri diatas tinja orang, suatu ketika istri Sunan Kudus mau buang hajat, kemudian di kasih bunga melati, marahlah sunan Kudus. Dikejarlah Saridin oleh murid-murid Panti Kudus.

Saridin lari terus keluar dari bumi Pati dan Panti Kudus, ia kehausan dan kelaparan, badannya lelah lunglai, kondisi fisiknya tak stabil. Di pinggir pohon ia tergeletak pingsan. Di antara sadar dan tidak sadar, ia bertemu dengan seorang tua berbaju putih mengenakan sorban, dan memeperkenalkan diri sebagai Sunan Kalijaga. Ia teringat cerita ayah angkatnya, bahwa ketika bayi ia ditemukan oleh orang yang bernama Sunan Kalijaga kemudian diserahkan kepada Ki Ageng Kingiran.[4]

Orang yang mengaku Sunan Kalijaga menceritakan semua asal-usulnya Saridin,

“Suatu ketika Sunan Bonang berkunjung ke Sunan Muria, namun Sunan Muria tidak ada, sedang bertandang ke Sunan Kudus, sambil menunggu Sunan Muria datang, Sunan Bonang meminjam kacip untuk membelah buah pinang (buah jambi) kepada Nyai Sujinah istri sunan Muria, kemudian ia membelah menjadi dua bagian sama besar. Mereka berdua makan sirih berbumbu buah pinang. Karena Sunan Muria ditunggu-tunggu tak kunjung datang, Sunan Bonang mohon diri. Sangat ajaib setelah menikmati buah pinang berdua dengan Sunan Bonang, tiba-tiba Nyai Sujinah hamil.[5] Ketika Sunan Muria pulang, mengetahui keadaan istrinya hamil, Sunan Muria marah, menuduh istrinya telah berbuat serong, namun dibantah oleh Nyai Sujinah. Namun Sunan Muria terdiam tidak mempercayai omongannya Nyai Sujinah. Dengan perasaan malu karena perutnya yang telah membuncit, Nyai Sujinah pergi dari Padepokan Muria. Ia putus asa mau bunuh diri ke sungai, beruntung tanganya aku pegang, selamatlah Nyai Sujinah” Orang yang mengaku Sunan Kalijaga membelai rambut Saridin.

“Akhirnya ponang jabang bayi lahir dari rahim Nyai Sujinah, yaitu kamu Saridin!”

“Kalau begitu aku anaknya Sunan Bonang atau Sunan Muria?” Saridin bersemangat untuk mengetahui siapa bapaknya.

“Aku tidak tahu Din, hanya Tuhan yang tahu, tapi percayalah aku akan selalu jangkung keselamatan jiwamu, berangkatlah kamu menyebrang lautan dengan membawa Kelapa, aku selalu Jangkung kamu, oleh sebab itu saat ini namamu aku beri nama Jangkung” Sunan Kalijaga semakin jauh dari pandangan Saridin. Meski Saridin memanggil-manggil namun suaranya semakin menjauh. Saridin siuman dari pingsannya. Matanya dikucek-kucek, ternyata dia sedang bermimpi.[6]

Saridin mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Orang tua yang mengaku bernama Sunan Kalijaga, ia membawa buah kelapa menyebrangi lautan menuju pulau Sumatra, merapat di sebuah Kerajaan di Sumatra yang belum menjadi wilayah Mataram, Raja tersebut menganggap remeh Sultan Agung. Saridin menyela omongan Raja Sumatra, ia merasa terpanggil sebagai seorang yang sama-sama dari Tanah Jawa. Dia mengaku sebagai hamba Mataram yang mau menguji kesaktian dengan raja Sumatra.[7]

“aku bisa menghitung kekuatan pasukan Minangkabau, yang paduka gelar di alun-alun kerajaan” Ribuan pasukan yang telah siap siaga untuk melawan Sultan Agung Mataram.

“ya, coba kalau bisa kamu menghitung ribuan pasukanku dengan tepat, aku akan mengaku kalah sama kamu, Saridin”. Saridin melesat dengan cepat ke atas, berlari dari ujung ke ujung tombak yang mengacung ke langit. Semua dihitung dengan cepat seperti kilat. Ia berada dihadapan Raja Minangkabau dengan menebak jumlah pasukan yang berbaris. Raja Minangkabau tertunduk, bergetar dan ciut nyalinya menghadapi kesaktian Saridin, seketika itu Raja Minangkabau takluk dihadapan Saridin, namun Saridin tidak menerima sembah bekti, ia menyarankan untuk tunduk kepada Sultan Agung saja, sebab Saridin adalah salah satu hamba dari Mataram. Dengan demikian Raja Minangkabau tunduk-takluk kepada Sultan Agung tanpa perlawanan sama sekali.

Nama Saridin melambung di jagat pelayaran dan para pedagang lintas pulau, selain sakti mandraguna, ia juga dikenal sebagai ahli berdakwah Agama Islam. Beramal ibadah, membantu kaum du’afa dan para fakir-miskin. Ketenaran Saridin sampai ke wilayah Mataram.

Saridin kemudian melanjutkan perjalanannya dengan membawa daun Jati dan Buah Kelapa, sampailah ia di tanah Ngerum, ia bertemu dengan penguasa kerajaan Ngerum, karena kecerdikannya dalam berdoplomasi dengan Penguasa Ngerum, maka ia diangkat menjadi penasehat Raja Ngerum, namun Saridin tidak betah untuk tinggal di kerajaan dengan malas-malasan, ia mohon pamit kepada penguasa Ngerum untuk melanjutkan perjalanan, sebelum berangkat penguasa Ngerum memberikan surat Kanjengan yang menetapkan Saridin sebagai Syeh. Sehingga namanya diganti Syeh Jangkung.

Saridin melanjutkan perjalanannya lewat laut dengan masih membawa daun Jati dan buah Kelapa, ditengah perjalanan ia dihadang oleh sekelompok Bajak laut yang mau merampok, namun para perampok itu dibuat tak berdaya oleh Saridin, bahkan mereka bertaubat untuk menjadi murid Saridin. Saridin alias Syeh Jangkung memerintahkan muridnya yang bekas Bajak Laut untuk mengamankan wilayah pelayaran laut Jawa.

Saridin kembali ke Jawa untuk menemui Ketip Trangkil ia diajak berpetualang ke mancanegara, daerah pertama yang disinggahi adalah Cirebon dengan daun Jati dan buah Kelapa, sesampai di kerajaan Cirebon, ia merapat bersama Ketib Trangkil. Di wilayah tersebut telah terjadi pagebluk, Sultan Cirebon memerintahkan prajuritnya untuk mengumumkan sayembara, namun semua orang yang ikut menenangkan Cirebon tidak ada yang berhasil menyirnakan Pagebluk. Sultan Cirebon mengajak prajuritnya mencari orang yang dapat mengusir pagebluk ini. Suatu ketika Ia bermimpi bahwa ada seseorang yang mampu menyembuhkan Pagebluk adalah orang yang berada di Sungai besar dengan membawa kelapanya.[8]

Akhirnya Saridin memberi satu bathok air untuk diminum seluruh rakyat ceribon. Banyak menyangsikan apakah cukup airnya, Saridin meyakinkan orang cirebon bahwa airnya cukup. Dan selamatlah orang Cirebon dari pagebluk. Saridin dikawinkan dengan putri Cirebon, namun Saridin tidak betah untuk tinggal di keraton, ia mau berpetualang menemukan orang yang digdaya.

Saridin dan Kethib Trangkil berangkat ke Metaram mau bertemu dengan Sultan Agung, namun ditengah perjalanan ia bertemu rombongan Prajurit Mataram di hutan, Saridin yakin bahwa Sultan Agung sedang berburu, maka Saridin Sama Khetib Trangkil keluar dari persembunyiannya, setelah keduanya keluar segera ditangkap oleh Adipati Mataram dan ditanyai

“Kamu siapa? Disini mau pamer kesaktian dihadapan Sultan Mataram Ya?, Kamu berdua saya tangkap!” mereka berdua ditangkap dan dihadapkan pada Sultan Agung. Kemudian mereka diajak adu teka-teki dengan Sultan Mataram, bila mereka berhasil menjawab pertanyaannya maka mereka lolos dari hukuman.

“Apa yang dimaksud kalimah Sahadat, Din”

Saridin memanjat pohon kelapa tinggi kemudian jatuh ketanah “Jebluk” ini dilakukan berulang kali ketika Sultan Agung menanyai tentang Kalimat Sahadat. Hal ini membuat Sultan Agung heran.

“kenapa kamu ketika aku Tanya Kalimat Sahadat, kamu malah jatuh dari pohon kelapa yang sangat tinggi”

“Kalimat Sahadat adalah buah tekad yang jatuh, sampai matipun kita kan bertekad membawa kalimah sahadat”

“O, gitu ternyata kamu cerdik, aku mengaku kalah pertanyaan sudah bisa kamu tebak, sekarang gantian kamu, apa pertanyaanmu Din?”

Saridin mengambil bulu ayam untuk orek-orek, dimanakah hilangnya orek-orek ini ?” Sultan Mataram tidak mengerti dan menyerah

“Hilangnya di mata, coba kalau mata ini ditutupi, atau misalnya matanya buta pasti kan gak bisa lihat demikian pula kalau belajar agama tidak disertai dengan membuka mata, maka akan sia-sia belajar agama”

akhirnya Sultan Agung mengakui kehebatan Saridin sehingga diangkat menjadi saudara dengan Sultan Agung dan dikawinkan putri Retno Jinoli

Saridin pulang ke Pati (Kayen) kampung Miyono. Di rumah ia memelihara seekor kerbau jantan. Kerbau besar dan bertanduk melengkung ke bawah, diberi nama Kebo Dhungkul Landhoh. Pemeliharaan Kerbau Saridin menjadi terkenal di wilayah Pati. Lama-lama Sunan Kudus tahu kalau Saridin pulang ke Pati.

“Ini Celaka Saridin Datang kembali, sekarang saridin saya panggil menghadap kembali ke Bumi Panti Kudus” Sunan Kudus mengumpulkan sahabatnya dan mengutarakan niatnya untuk membunuh Saridin. Sunan Kudus menyuruh para sahabatnya agar membuat Bubur Jenang namun dikasih racun, nanti Saridin kusuruh menghadap pagi-pagi, pasti dia belum sempat membuat sarapan. Sunan Kudus mengutus sahabat untuk menemui Saridin.

“Saridin kamu disuruh menghadap ke Sunan kudus pagi-pagi sebelum Matahari keluar, kamu masih mau berguru di Pantai Kudus kan?”

Saridin sama Ki Khetib Trangkil berangkat pagi-pagi menuju Ke Bumi Panti Kudus. Kedatangannya di sambut oleh Sunan Kudus yang telah mempersiapkan rencana jahatnya.

“ Semua selamatkan sehat wal afiatkan?, pagi-pagi sekali ya Din!, Pastinya kamu belum sarapankan?”

“Minta ampun Kanjeng Sunan Saya baru menjalankan Puasa, ini kurang dua hari, jadi amat disayangkan bila hari ini puasa saya dibatalkan, mungkin Kakang Kethib Trangkil yang belum sarapan?”

tanpa malu-malu Bubur jenang langsung disaut untuk dimakan, yang kebetulan perut Kethib Trangkil lapar karena perjalanan dari Pati ke Kudus. Lahap sekali khetib Trangkil memakan Bubur Jenang, dirasa dimulutnya enak banget, sampai kececer dilantai Kanjeng Sunan Kudus.

“ Pelan-pelan kalau makan itu sampai kececer dilantai, nanti dimarahi sama Kanjeng Sunan Kudus”

Kemudian ia di suruh Sunan Kudus untuk masuk ke dapur untuk mengambil lagi bubur Jenang Khetib Trangkil menyikat habis, sampai piringnya dijilati hingga jatuh pecah. ternyata bubur yang diracun itu telah diubah dengan kesaktian Saridin menjadi bubur yang lezat.

Belum lama datang ke Panti Kudus, datanglah seorang wanita membawa cucunya yang telah mati kebanjiran.

“lho ada apa mbok?, tidak saya panggil kok kamu menghadap!”

“Ampun Kanjeng Sunan, cucu saya Mati kena Banjir, saya minta supaya Kanjeng Sunan menyadarkannya!”

“Ini sudah mati Mbok!”

“coba dilihat dulu mungkin belum mati!” Saridin menyela kemudian memberikan bubur Jenang sisa cecran Ki Khetib Trangkil, ternyata mulut cucu itu bergerak-gerak berarti hidup. Maka nanti kalau tempat jadi rame maka akan beri nama Desa Kaliputu.[9]

Merasa malu Sunan Kudus dan penguasa Pati memerintahkan semua daerah Pati dan Kudus untuk memburu menangkap Saridin untuk diadili.Saridin ditangkap kemudian dimasukan ke dalam Tong diglundungkan tapi Saridin ikut mengelindinkan tong tersebut, kemudian atas saran Sunan Kudus Saridin dihukum gantung saja, Saridin digantung tapi Saridin malah ikut menarik gantungan tersebut. Saridin mau dihukum pancung, sebelum eksekusi itu dilakukan ada utusan Metaram dan Ngerum datang kepada Sunan Kudus,[10] bahwa Pati di bawah wilayah Mataram dan Saridin sudah dianggap sebagai saudara sendiri sama Sultan Agung. Sementara utusan Ngerum membawa surat Kekanjengan (sertifikat) bahwa Saridin adalah Syeh yang bergelar Syeh Jangkung.

Akhirnya Sariden diajak Sultan Agung ke Mataram, dan minta pesan bahwa kalau Sultan Agung ia minta dikuburkan di Imogiri saja. Namun daerah ini tandus, oleh Saridin (Syeh Jangkung) daerah ini bisa ada airnya. Syeh Jangkung juga membantu Sultan Agung dalam berperang.

***FREEDOM***



[1] Saridin adalah anak angkat Ki Ageng Giringan. anak perempuan kawin dengan Ki Branjung. Cerita ini bila di gelar sangat panjang sekali karena dari jaman kewalian hingga jaman Sultan Agung. Hal ini sangat membingungkan, kalau cerita ini benar berarti umur Syeh Jangkung dalam perjalanan hidupnya mencapai umur sampai 250 tahun. Namun ada beberapa sastrawan yang mengatakan ini adalah hanya cerita tutur yang berkembang di masyarakat Pati, cerita ini lahir ketika Pati di bawah kekuasaan Mataram, hal ini dapat ditinjau

1. Perseteruan antara Saridin dengan Sunan Kudus, dimana penguasa Mataram yang merupakan keturunan dari Ki Ageng Pemanahan merupakan anak didik Ki Ageng Selo (murid dari Sunan Kalijaga), pada saat itu Ki Ageng Pemanahan bermusuhan dengan Aryo Penangsang (Murid dari Sunan Kudus). Ada beranggapan Persaingan antara murid Sunan Kalijaga dengan murid Sunan Kudus tersebutlah yang mengilhami lahirnya cerita tutur Saridin.

2. Cerita Saridin yang lebih mengagungkan penguasa Mataram yaitu Sultan Agung, padahal Sultan Agung adalah yang pernah menghabisi Pragola II. Ini ada kecenderungan cerita tutur yang istana sentries (pro Mataram). Cerita Saridin ini beredar untuk mensatbilkan wilayah Pati dari dendam terhadap Mataram.

[2] Cerita Saridin ini banyak dijumpai pada tanggapan Ketoprak Pati (wilayah Pati merupakan salah satu gudang para seniman Ketoprak). Selain itu Kita bisa mendengarkan kaset-kaset yang bertemakan Saridin. Atau lewat radio-radio (RRI maupun Radio Swasta) yang sering memutarkan kisah Saridin.

[3] Para sejarawan kesulitan untuk mengetahui periodisasi Kisah Saridin, Praba Hapsara berpendapat bahwa Saridin hidup diantara tiga atau empat generasi. ini adalah hal yang mustahil, apakah mungkin Saridin hidup bersamaan dengan Sunan Kudus Jafar Sidik, kemudian muncul dijaman Pati dibawah Mangun Oneng, atau penguasa Mataram Sultan Agung. Namun ada beberapa orang yang beranggapan bahwa Sunan kudus tersebut? bukan Sunan Kudus Jafar Sidik, namun penguasa Kudus yang berkuasa setelah Jafar Sidik, pengusa tersebut mengambil gelar sama dengan Sunan Kudus.. Sunan Kudus yang ke berapa? Namun kemudian kita kembalikan pada pembaca, belive or not belive, up to you!

[4] Saridin berosebsi ingin bertemu dengan roh Sunan Kalijaga, sampai terbawa di alam bawah sadarnya, bertemu dengan orang tua berbaju putih dan bersorban, Saridin yakin bahwa dia adalah Sunan Kalijaga

[5] ini merupakan cerita yang sangat berseberangan atau bertolak belakang dengan cerita Pakem kewalian, namun masyarakat Pati menganggap ini sebagai cerita Pati versi Saridin. Sebab tidak ada babad yang menulis tentang Saridin. Yang ada hanyalah naskah-naskah yang dikembangkan Seniman ketoprak.

[6] Setelah itu Saridin sering di datangi oleh orang yang mengaku Sunan Kalijaga, seakan orang tersebut dijadikan guru spiritual imajiner, yang hanya ada dalam benak Saridin

[7] ada yang bercerita bahwa Saridin juga merapat ke kerajaan Palembang dan kota-kota sepanjang pelayaran Sumatra.

[8] ada yang beranggapan Saridin adalah pengusa & penjual kelapa dan daun Jati. Ia berdagang sampai ke penjuru nusantara dengan sebuah kapal.

[9] Kaliputu adalah cucu yang hanyut Banjir di kali dapat hidup kembali

[10] Sariden juga pernah bertemu dengan seorang yang sangat sakti di Gunung pati ayam, bernama Ondo Rante, yang konon matinya ditarik oleh empat Gajah menuju arah mata angin dengan menggunakan rantai emas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar