Selasa, 10 Februari 2009

Cerita Rakyat : Syeh Jangkung

VI

SYEH JANGKUNG

Saridin anak angkat Ki Ageng Kingiran, ia mempunyai satu saudara perempuan bernama Sumiyem,[1] putri Ki Ageng Kingiran memang mendambakan seorang adik laki-laki. Mereka berdua hidup rukun dibawa asuhan Ki Ageng Kiringan. Setelah dewasa Sumiyem diperistrikan oleh seorang laki-laki bernama Branjung, sedangkan Saridin dikawinkan dengan gadis bernama Sumirah. Ki Ageng Kingiran sudah tua, tidak meninggalkan apa-apa kecuali pohon Durian. Ki Ageng Kingiran berpesan,

“besuk saya bakal tidak ada, karena hanya meninggalkan satu batang pohon durian, lalu bagaimana membaginya?”. Lalu diputuskan kalau siang bagiannya Branjung sedang kalau malam bagiannya Saridin. Bila ada yang jatuh siang menjadi rejeki Branjung sedangkan kalau jatuh malam hari maka rejekinya Saridin. Ternyata durian tadi kalau siang tidak ada yang jatuh. Sedangkan kalau malam banyak yang jatuh. Branjung mulai merasa iri hatinya dan timbul dalam pikirannya ingin menyamar menjadi harimau untuk menakut-nakuti Saridin. Setelah merubah dirinya menjadi harimau maka segera memanjat pohon durian, saridin tahu kalau ada harimau di pohon durian segera ditombak kena dan mati. Setelah harimau mati, berubah lagi menjadi manusia. Maka kemudian Saridin telah melakukan pembunuhan atau Rajapati, maka oleh petinggi Kemiri dilaporkan pada Adipati Mangun Oneng. Saridin didakwa telah melakukan pembunuhan. Saridin mengelak tuduhan,

“saya tidak melakukan pembunuhan, saya hanya membunuh harimau”. Sumiyem saudara Saridin menggerutu

“eh..aku hanya mempunyai saudara satu saja terkena perkara besar”, maka ia mempunyai nadzar, bila nanti Saridin dapat kembali akan membuat cempedak dikasih asahan sak ambeng, kalau bisa kembali hidup.

Petinggi Kemiri berkunjung ke rumah istri Branjung, yang sedang seorang diri, karena diam-diam dia mencintainya (ada rasa). Karena Saridin orang sakti yang dapat merintangi keinginannya maka dia melapor kepada Dipati Mangun Oneng agar menghukum mati Saridin.[2] Dipati Mangun Oneng menyuruh Suro Gajah untuk melaksanakan hukuman mati tersebut.

“Kang Suro Gajah ini ada tugas untuk membawa Saridin ke hutan kemudian bunuh Saridin”

“lho aku tidak punya salah sama kamu kok, aku punya salah hanya sama gusti Dipati, kenapa kau harus membunuhku”

“Gak peduli pokoknya kamu harus aku bunuh” saridin ganti bertanya

“ Upamanya nanti saya tidak mau gimana apa boleh?

”Boleh, ini rasakan senjataku” Saridin tidak apa-apa gantian ia menagih janji, lalu dipukulah Suro Gajah oleh Saridin dan mati

“Nanti kalau tempat ini ramai akan kuberi nama Gajah Mati”

Petinggi Kemiri mengejar Istri Branjung, karena mengira Saridin sudah mati, adipati Mangun Oneng memanggil para punggawanya dan memerintahkan agar Saridin dihukum hari ini. Karena saktinya tahu-tahu Saridin muncul ketika Petinggi Kemiri hendak masuk ke kamar istri Branjung, petinggi segera melapor kepada Adipati. Dengan lembut para punggawa datang ke rumah Saridin,menyatakan

“Din karena kamu orang bersalah maka saya datang memberikan kesukaanmu, karena kebetulan saat ini ada rumah besar kosong maka kau boleh menempatinya, kalau kau ingin pulang kau bisa dipersilahkan, segala kebutuhanmu disediakan dan sudah ada yang disuruh.” Bujuk Adipati Mangun Oneng.

“ Ya..saya suka begitu “ Jawab Saridin

Saridin menjalani hukuman, petinggi Kemiri Kecewa,

“lha disuruh membunuh saja tidak mau” maka punya akal lagi, ia lapor ke Adipati Mangun Oneng, kalau Saridin tidak dihukum mati nanti akan berbahaya terhadap Kadipaten Pati.

Petinggi Kemiri setelah tahu Saridin ada di penjara maka mendatangi rumah istri Branjung. ternyata kelakuannya diketahui oleh Saridin lagi, karena dia sudah ada di rumah. Petinggi lapor lagi kepada Adipati kalau Saridin keluar dari Pakunjaran

“Ah masak iya, kowe ojo ngawur! Saridin sudah saya masukan ke Penjara..!”

Akhirnya Saridin dikejar-kejar sama orang-orang Pati. Saridin kemudian minggat dan minta restu kakaknya Sumiyem, Saridin minta dido’akan agar selamat. Sumiyem merestui kepergian Saridin, akan ketempat orang digdaya yakni Sunan Kudus, Saridin akan berguru dan menetap di Panti Kudus.[3]

“ Kamu siapa ?”

“Saya saridin.”

“Rumahmu mana ?”

“Saya dari Pati, ingin berguru dipadepokan Panti Kudus ”

“ Oh ya sudah, kalau gitu sana bekerja sama teman-temanya di belakang ”

Saridin ke belakang untuk bekerja, bersama dengan teman-teman seperguruan, akan tetapi semua pekerjaan telah di kerjakan oleh teman-temannya, Saridin dicuekin sama teman2nya, sehingga kebingungan mau kerja apa. Saridin melihat teman2nya membawa ember untuk mengisi bak mandi. Ia mau membantu temannya, namun embernya sudah kepakai semua, akhirnya Saridin melihat Keranjang untuk mencari rumput. Kemudian Saridin mengambil air dengan keranjang. Hal ini membuat temannya melaporkan kepada Sunan Kudus.

“ Din kenapa kamu mengambil air dengan keranjang, bukankah airnya bocor ” seketika airnya jatuh dari keranjang

“Tidak kanjeng Sunan ” airnya kembali ke keranjang.

“Bocor” Sunan Kudus membentak

“Tidak bocor” hal ini dilakukan sampai tiga kali antara Sunan Kudus dengan Saridin. Sunan Kudus bersikap arif terhadap Saridin.

“ya, sudah Din, kamu tidak usah mengambil air biar teman2mu yang mengerjakannya, kamu membersihkan kubangan air dibelakang biar lancar airnya.”

Saridin menuruti perintah Sunan Kudus, namun Saridin masuk ke dalam kubangan dengan tangannya mengapai dasarnya. Hal ini menjadi perhatian Sunan Kudus.

“ Din kamu kesini mau mengabdi sama saya, kok saya suruh bekerja kok gak mau! Kamu cari apa Din?”

“cari ikan”

“Lho disitu gak ada ikannya Din?”

“Kalau ada air pasti ada ikannya!”

“Kalau gitu di bak mandi dan tempat wundu apa ada ikannya Din?”

“ada, setiap ada air pasti ada ikannya!” sahut Saridin dan ternyata di bak mandi terdapat ikan.

“Kalau di buah kelapa yang diatas itu apa ada ikannya Din?” Saridin menengok ke atas pohon kelapa yang sangat tinggi.

“Ya, ada kanjeng sunan!” Kanjeng Sunan memerintahkan muridnya untuk memanjat pohon kelapa, tapi di tahan oleh Saridin biar Saridin yang melambai pohon kelapa tersebut agar mau diambil buahnya, seketika itu pohon kelapa menunduk diambilnya dua buah kelapa kemudian dibelah dan ternyata di dalam kelapa tersebut terdapat ikannya.

Sunan Kudus marah dan mengusir Saridin untuk tidak lagi menginjak bumi Panti Kudus. Akhirnya Saridin sembunyi di WC dan berdiri diatas tinja orang, suatu ketika istri Sunan Kudus mau buang hajat, kemudian di kasih bunga melati, marahlah sunan Kudus. Dikejarlah Saridin oleh murid-murid Panti Kudus.

Saridin lari terus keluar dari bumi Pati dan Panti Kudus, ia kehausan dan kelaparan, badannya lelah lunglai, kondisi fisiknya tak stabil. Di pinggir pohon ia tergeletak pingsan. Di antara sadar dan tidak sadar, ia bertemu dengan seorang tua berbaju putih mengenakan sorban, dan memeperkenalkan diri sebagai Sunan Kalijaga. Ia teringat cerita ayah angkatnya, bahwa ketika bayi ia ditemukan oleh orang yang bernama Sunan Kalijaga kemudian diserahkan kepada Ki Ageng Kingiran.[4]

Orang yang mengaku Sunan Kalijaga menceritakan semua asal-usulnya Saridin,

“Suatu ketika Sunan Bonang berkunjung ke Sunan Muria, namun Sunan Muria tidak ada, sedang bertandang ke Sunan Kudus, sambil menunggu Sunan Muria datang, Sunan Bonang meminjam kacip untuk membelah buah pinang (buah jambi) kepada Nyai Sujinah istri sunan Muria, kemudian ia membelah menjadi dua bagian sama besar. Mereka berdua makan sirih berbumbu buah pinang. Karena Sunan Muria ditunggu-tunggu tak kunjung datang, Sunan Bonang mohon diri. Sangat ajaib setelah menikmati buah pinang berdua dengan Sunan Bonang, tiba-tiba Nyai Sujinah hamil.[5] Ketika Sunan Muria pulang, mengetahui keadaan istrinya hamil, Sunan Muria marah, menuduh istrinya telah berbuat serong, namun dibantah oleh Nyai Sujinah. Namun Sunan Muria terdiam tidak mempercayai omongannya Nyai Sujinah. Dengan perasaan malu karena perutnya yang telah membuncit, Nyai Sujinah pergi dari Padepokan Muria. Ia putus asa mau bunuh diri ke sungai, beruntung tanganya aku pegang, selamatlah Nyai Sujinah” Orang yang mengaku Sunan Kalijaga membelai rambut Saridin.

“Akhirnya ponang jabang bayi lahir dari rahim Nyai Sujinah, yaitu kamu Saridin!”

“Kalau begitu aku anaknya Sunan Bonang atau Sunan Muria?” Saridin bersemangat untuk mengetahui siapa bapaknya.

“Aku tidak tahu Din, hanya Tuhan yang tahu, tapi percayalah aku akan selalu jangkung keselamatan jiwamu, berangkatlah kamu menyebrang lautan dengan membawa Kelapa, aku selalu Jangkung kamu, oleh sebab itu saat ini namamu aku beri nama Jangkung” Sunan Kalijaga semakin jauh dari pandangan Saridin. Meski Saridin memanggil-manggil namun suaranya semakin menjauh. Saridin siuman dari pingsannya. Matanya dikucek-kucek, ternyata dia sedang bermimpi.[6]

Saridin mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Orang tua yang mengaku bernama Sunan Kalijaga, ia membawa buah kelapa menyebrangi lautan menuju pulau Sumatra, merapat di sebuah Kerajaan di Sumatra yang belum menjadi wilayah Mataram, Raja tersebut menganggap remeh Sultan Agung. Saridin menyela omongan Raja Sumatra, ia merasa terpanggil sebagai seorang yang sama-sama dari Tanah Jawa. Dia mengaku sebagai hamba Mataram yang mau menguji kesaktian dengan raja Sumatra.[7]

“aku bisa menghitung kekuatan pasukan Minangkabau, yang paduka gelar di alun-alun kerajaan” Ribuan pasukan yang telah siap siaga untuk melawan Sultan Agung Mataram.

“ya, coba kalau bisa kamu menghitung ribuan pasukanku dengan tepat, aku akan mengaku kalah sama kamu, Saridin”. Saridin melesat dengan cepat ke atas, berlari dari ujung ke ujung tombak yang mengacung ke langit. Semua dihitung dengan cepat seperti kilat. Ia berada dihadapan Raja Minangkabau dengan menebak jumlah pasukan yang berbaris. Raja Minangkabau tertunduk, bergetar dan ciut nyalinya menghadapi kesaktian Saridin, seketika itu Raja Minangkabau takluk dihadapan Saridin, namun Saridin tidak menerima sembah bekti, ia menyarankan untuk tunduk kepada Sultan Agung saja, sebab Saridin adalah salah satu hamba dari Mataram. Dengan demikian Raja Minangkabau tunduk-takluk kepada Sultan Agung tanpa perlawanan sama sekali.

Nama Saridin melambung di jagat pelayaran dan para pedagang lintas pulau, selain sakti mandraguna, ia juga dikenal sebagai ahli berdakwah Agama Islam. Beramal ibadah, membantu kaum du’afa dan para fakir-miskin. Ketenaran Saridin sampai ke wilayah Mataram.

Saridin kemudian melanjutkan perjalanannya dengan membawa daun Jati dan Buah Kelapa, sampailah ia di tanah Ngerum, ia bertemu dengan penguasa kerajaan Ngerum, karena kecerdikannya dalam berdoplomasi dengan Penguasa Ngerum, maka ia diangkat menjadi penasehat Raja Ngerum, namun Saridin tidak betah untuk tinggal di kerajaan dengan malas-malasan, ia mohon pamit kepada penguasa Ngerum untuk melanjutkan perjalanan, sebelum berangkat penguasa Ngerum memberikan surat Kanjengan yang menetapkan Saridin sebagai Syeh. Sehingga namanya diganti Syeh Jangkung.

Saridin melanjutkan perjalanannya lewat laut dengan masih membawa daun Jati dan buah Kelapa, ditengah perjalanan ia dihadang oleh sekelompok Bajak laut yang mau merampok, namun para perampok itu dibuat tak berdaya oleh Saridin, bahkan mereka bertaubat untuk menjadi murid Saridin. Saridin alias Syeh Jangkung memerintahkan muridnya yang bekas Bajak Laut untuk mengamankan wilayah pelayaran laut Jawa.

Saridin kembali ke Jawa untuk menemui Ketip Trangkil ia diajak berpetualang ke mancanegara, daerah pertama yang disinggahi adalah Cirebon dengan daun Jati dan buah Kelapa, sesampai di kerajaan Cirebon, ia merapat bersama Ketib Trangkil. Di wilayah tersebut telah terjadi pagebluk, Sultan Cirebon memerintahkan prajuritnya untuk mengumumkan sayembara, namun semua orang yang ikut menenangkan Cirebon tidak ada yang berhasil menyirnakan Pagebluk. Sultan Cirebon mengajak prajuritnya mencari orang yang dapat mengusir pagebluk ini. Suatu ketika Ia bermimpi bahwa ada seseorang yang mampu menyembuhkan Pagebluk adalah orang yang berada di Sungai besar dengan membawa kelapanya.[8]

Akhirnya Saridin memberi satu bathok air untuk diminum seluruh rakyat ceribon. Banyak menyangsikan apakah cukup airnya, Saridin meyakinkan orang cirebon bahwa airnya cukup. Dan selamatlah orang Cirebon dari pagebluk. Saridin dikawinkan dengan putri Cirebon, namun Saridin tidak betah untuk tinggal di keraton, ia mau berpetualang menemukan orang yang digdaya.

Saridin dan Kethib Trangkil berangkat ke Metaram mau bertemu dengan Sultan Agung, namun ditengah perjalanan ia bertemu rombongan Prajurit Mataram di hutan, Saridin yakin bahwa Sultan Agung sedang berburu, maka Saridin Sama Khetib Trangkil keluar dari persembunyiannya, setelah keduanya keluar segera ditangkap oleh Adipati Mataram dan ditanyai

“Kamu siapa? Disini mau pamer kesaktian dihadapan Sultan Mataram Ya?, Kamu berdua saya tangkap!” mereka berdua ditangkap dan dihadapkan pada Sultan Agung. Kemudian mereka diajak adu teka-teki dengan Sultan Mataram, bila mereka berhasil menjawab pertanyaannya maka mereka lolos dari hukuman.

“Apa yang dimaksud kalimah Sahadat, Din”

Saridin memanjat pohon kelapa tinggi kemudian jatuh ketanah “Jebluk” ini dilakukan berulang kali ketika Sultan Agung menanyai tentang Kalimat Sahadat. Hal ini membuat Sultan Agung heran.

“kenapa kamu ketika aku Tanya Kalimat Sahadat, kamu malah jatuh dari pohon kelapa yang sangat tinggi”

“Kalimat Sahadat adalah buah tekad yang jatuh, sampai matipun kita kan bertekad membawa kalimah sahadat”

“O, gitu ternyata kamu cerdik, aku mengaku kalah pertanyaan sudah bisa kamu tebak, sekarang gantian kamu, apa pertanyaanmu Din?”

Saridin mengambil bulu ayam untuk orek-orek, dimanakah hilangnya orek-orek ini ?” Sultan Mataram tidak mengerti dan menyerah

“Hilangnya di mata, coba kalau mata ini ditutupi, atau misalnya matanya buta pasti kan gak bisa lihat demikian pula kalau belajar agama tidak disertai dengan membuka mata, maka akan sia-sia belajar agama”

akhirnya Sultan Agung mengakui kehebatan Saridin sehingga diangkat menjadi saudara dengan Sultan Agung dan dikawinkan putri Retno Jinoli

Saridin pulang ke Pati (Kayen) kampung Miyono. Di rumah ia memelihara seekor kerbau jantan. Kerbau besar dan bertanduk melengkung ke bawah, diberi nama Kebo Dhungkul Landhoh. Pemeliharaan Kerbau Saridin menjadi terkenal di wilayah Pati. Lama-lama Sunan Kudus tahu kalau Saridin pulang ke Pati.

“Ini Celaka Saridin Datang kembali, sekarang saridin saya panggil menghadap kembali ke Bumi Panti Kudus” Sunan Kudus mengumpulkan sahabatnya dan mengutarakan niatnya untuk membunuh Saridin. Sunan Kudus menyuruh para sahabatnya agar membuat Bubur Jenang namun dikasih racun, nanti Saridin kusuruh menghadap pagi-pagi, pasti dia belum sempat membuat sarapan. Sunan Kudus mengutus sahabat untuk menemui Saridin.

“Saridin kamu disuruh menghadap ke Sunan kudus pagi-pagi sebelum Matahari keluar, kamu masih mau berguru di Pantai Kudus kan?”

Saridin sama Ki Khetib Trangkil berangkat pagi-pagi menuju Ke Bumi Panti Kudus. Kedatangannya di sambut oleh Sunan Kudus yang telah mempersiapkan rencana jahatnya.

“ Semua selamatkan sehat wal afiatkan?, pagi-pagi sekali ya Din!, Pastinya kamu belum sarapankan?”

“Minta ampun Kanjeng Sunan Saya baru menjalankan Puasa, ini kurang dua hari, jadi amat disayangkan bila hari ini puasa saya dibatalkan, mungkin Kakang Kethib Trangkil yang belum sarapan?”

tanpa malu-malu Bubur jenang langsung disaut untuk dimakan, yang kebetulan perut Kethib Trangkil lapar karena perjalanan dari Pati ke Kudus. Lahap sekali khetib Trangkil memakan Bubur Jenang, dirasa dimulutnya enak banget, sampai kececer dilantai Kanjeng Sunan Kudus.

“ Pelan-pelan kalau makan itu sampai kececer dilantai, nanti dimarahi sama Kanjeng Sunan Kudus”

Kemudian ia di suruh Sunan Kudus untuk masuk ke dapur untuk mengambil lagi bubur Jenang Khetib Trangkil menyikat habis, sampai piringnya dijilati hingga jatuh pecah. ternyata bubur yang diracun itu telah diubah dengan kesaktian Saridin menjadi bubur yang lezat.

Belum lama datang ke Panti Kudus, datanglah seorang wanita membawa cucunya yang telah mati kebanjiran.

“lho ada apa mbok?, tidak saya panggil kok kamu menghadap!”

“Ampun Kanjeng Sunan, cucu saya Mati kena Banjir, saya minta supaya Kanjeng Sunan menyadarkannya!”

“Ini sudah mati Mbok!”

“coba dilihat dulu mungkin belum mati!” Saridin menyela kemudian memberikan bubur Jenang sisa cecran Ki Khetib Trangkil, ternyata mulut cucu itu bergerak-gerak berarti hidup. Maka nanti kalau tempat jadi rame maka akan beri nama Desa Kaliputu.[9]

Merasa malu Sunan Kudus dan penguasa Pati memerintahkan semua daerah Pati dan Kudus untuk memburu menangkap Saridin untuk diadili.Saridin ditangkap kemudian dimasukan ke dalam Tong diglundungkan tapi Saridin ikut mengelindinkan tong tersebut, kemudian atas saran Sunan Kudus Saridin dihukum gantung saja, Saridin digantung tapi Saridin malah ikut menarik gantungan tersebut. Saridin mau dihukum pancung, sebelum eksekusi itu dilakukan ada utusan Metaram dan Ngerum datang kepada Sunan Kudus,[10] bahwa Pati di bawah wilayah Mataram dan Saridin sudah dianggap sebagai saudara sendiri sama Sultan Agung. Sementara utusan Ngerum membawa surat Kekanjengan (sertifikat) bahwa Saridin adalah Syeh yang bergelar Syeh Jangkung.

Akhirnya Sariden diajak Sultan Agung ke Mataram, dan minta pesan bahwa kalau Sultan Agung ia minta dikuburkan di Imogiri saja. Namun daerah ini tandus, oleh Saridin (Syeh Jangkung) daerah ini bisa ada airnya. Syeh Jangkung juga membantu Sultan Agung dalam berperang.

***FREEDOM***



[1] Saridin adalah anak angkat Ki Ageng Giringan. anak perempuan kawin dengan Ki Branjung. Cerita ini bila di gelar sangat panjang sekali karena dari jaman kewalian hingga jaman Sultan Agung. Hal ini sangat membingungkan, kalau cerita ini benar berarti umur Syeh Jangkung dalam perjalanan hidupnya mencapai umur sampai 250 tahun. Namun ada beberapa sastrawan yang mengatakan ini adalah hanya cerita tutur yang berkembang di masyarakat Pati, cerita ini lahir ketika Pati di bawah kekuasaan Mataram, hal ini dapat ditinjau

1. Perseteruan antara Saridin dengan Sunan Kudus, dimana penguasa Mataram yang merupakan keturunan dari Ki Ageng Pemanahan merupakan anak didik Ki Ageng Selo (murid dari Sunan Kalijaga), pada saat itu Ki Ageng Pemanahan bermusuhan dengan Aryo Penangsang (Murid dari Sunan Kudus). Ada beranggapan Persaingan antara murid Sunan Kalijaga dengan murid Sunan Kudus tersebutlah yang mengilhami lahirnya cerita tutur Saridin.

2. Cerita Saridin yang lebih mengagungkan penguasa Mataram yaitu Sultan Agung, padahal Sultan Agung adalah yang pernah menghabisi Pragola II. Ini ada kecenderungan cerita tutur yang istana sentries (pro Mataram). Cerita Saridin ini beredar untuk mensatbilkan wilayah Pati dari dendam terhadap Mataram.

[2] Cerita Saridin ini banyak dijumpai pada tanggapan Ketoprak Pati (wilayah Pati merupakan salah satu gudang para seniman Ketoprak). Selain itu Kita bisa mendengarkan kaset-kaset yang bertemakan Saridin. Atau lewat radio-radio (RRI maupun Radio Swasta) yang sering memutarkan kisah Saridin.

[3] Para sejarawan kesulitan untuk mengetahui periodisasi Kisah Saridin, Praba Hapsara berpendapat bahwa Saridin hidup diantara tiga atau empat generasi. ini adalah hal yang mustahil, apakah mungkin Saridin hidup bersamaan dengan Sunan Kudus Jafar Sidik, kemudian muncul dijaman Pati dibawah Mangun Oneng, atau penguasa Mataram Sultan Agung. Namun ada beberapa orang yang beranggapan bahwa Sunan kudus tersebut? bukan Sunan Kudus Jafar Sidik, namun penguasa Kudus yang berkuasa setelah Jafar Sidik, pengusa tersebut mengambil gelar sama dengan Sunan Kudus.. Sunan Kudus yang ke berapa? Namun kemudian kita kembalikan pada pembaca, belive or not belive, up to you!

[4] Saridin berosebsi ingin bertemu dengan roh Sunan Kalijaga, sampai terbawa di alam bawah sadarnya, bertemu dengan orang tua berbaju putih dan bersorban, Saridin yakin bahwa dia adalah Sunan Kalijaga

[5] ini merupakan cerita yang sangat berseberangan atau bertolak belakang dengan cerita Pakem kewalian, namun masyarakat Pati menganggap ini sebagai cerita Pati versi Saridin. Sebab tidak ada babad yang menulis tentang Saridin. Yang ada hanyalah naskah-naskah yang dikembangkan Seniman ketoprak.

[6] Setelah itu Saridin sering di datangi oleh orang yang mengaku Sunan Kalijaga, seakan orang tersebut dijadikan guru spiritual imajiner, yang hanya ada dalam benak Saridin

[7] ada yang bercerita bahwa Saridin juga merapat ke kerajaan Palembang dan kota-kota sepanjang pelayaran Sumatra.

[8] ada yang beranggapan Saridin adalah pengusa & penjual kelapa dan daun Jati. Ia berdagang sampai ke penjuru nusantara dengan sebuah kapal.

[9] Kaliputu adalah cucu yang hanyut Banjir di kali dapat hidup kembali

[10] Sariden juga pernah bertemu dengan seorang yang sangat sakti di Gunung pati ayam, bernama Ondo Rante, yang konon matinya ditarik oleh empat Gajah menuju arah mata angin dengan menggunakan rantai emas.

Cerita Rakyat : Prahara di Bumi Pati

V

PRAHARA DI BUMI PATI

WASIS JOYOKUSUMO II

Hubungan baik terjalin kembali setelah terdahulunya Pragola I mengadakan pemberontakan terhadap Mataram. Perkawinan adalah sangat efektif digunakan untuk menyatukan dua wilayah yang bertikai, Joyo Kusumo menikah sama adik Sultan Agung. Kerukunan ini terjalin untuk memperluas kekuasaan Mataram di tanah Jawa.

Wasis Joyo Kusumo II mau melamar Putri pengusaha kaya dari Jepara. Ia melamar dengan mengirimkan dua ekor gajah ditambah dengan tiga sampai empat orang terkemuka yang membawa emas,perak, bahkan pakaian yang berharga dan sirih. Akan tetapi peminangan ini ditolak karena gadis tersebut telah dipinang oleh orang lain. Sehingga dibawa pulang seperangkat lamaran kembali ke Pati.

Joyo Kusumo marah, ia mengirimkan beberapa prajurit untuk menyerang rumah orang kaya tersebut. Hal ini didengar oleh Kiai Demang Laksamana kemudian membantu orang kaya tersebut dengan membawa pasukan bersenjata dan seseorang pembesar Jepara juga membantu membawa beberapa prajurit.[1] Mereka bergabung mengantisipasi bahwa Pati akan menguasai daerah-daerah lain sekitarnya. Kia Demang juga mengirim istrinya menghadap ke Mataram guna melaporkan bahwa telah terjadi penyerbuan di wilayah Jepara untuk memperebutkan seorang gadis cantik asal Jepara selain itu juga akan menundukan wilayah Jepara.

Laporan ini membuat Raja Mataram hati-hati sehingga ia mengirimkan telik sandi ke Pati, untuk mengetahui sepak terjang Adipati Joyo Kusumo, laporan yang diterima sesuai dengan apa yang pernah dilaporkan istri Kyai Demang bahwa Pati sedang menyusun kekuatan. Raja Mataram segera mengirimkan pasukan ke Pati.[2] Pasukan ini sebenarnya akan dipersiapkan untuk melawan Surbaya. konsentrasi Mataram sedang disibukan dengan penumpasan Surabaya.. Tapi dialihkan menuju ke wilayah Pati guna mencegah terjadinya pemberontakan di wilayah tersebut.

Perang saudara ini bisa dicegah dengan mengadakan perkawinan politik antara anak Sultan Agung dengan anak Joyo Kusumo, dan ini sangat efektif untuk meredam pemberontakan di Wilayah Pati. Pasukan Mataram kemudian dialihkan kembali ke penyerangan Surabaya Disamping itu juga untuk mencegah terjadinya pemberontakan wilayah, Pati salah satu kekuatan yang menjadi perhitungan politik Sultan Agung, sehingga harus dipertahankan supaya tetap mendukung Mataram.

Adi pati Joyo Kusumo gagah berani tampil sebagai pemimpin wilayah Pantai, mereka mengumpulkan Penguasa Utara di Juana. Bahkan ketika pengirimin pasukan untuk menyerang Surabaya ia menjadi panglimanya menggantikan Adipati Sujanapura yang gugur dalam pertempuran. Adipati Joyo Kusumo juga ikut dalam menumpas Pemberontakan Tuban. Ia bersama Lasem bahu membahu untuk menundukan kekuatan dan strategi perang Tuban dengan besar-besaran,. sedangkan palimanya Adipati Matralaya lebih senang menunggu musuh daripada menyerang dahuluan. Joyo Kusumo juga pernah menjadi panglima yang gagah berani. Ia bahu membahu dengan pasukan Tumenggung Alap-alap

Setelah penyerangan Surabaya selesai, penarikan pasukan kembali ke wilayahnya masing-masing. Temenggung Endranata mulai kasak-kusuk di dalam Keraton Mataram, ia menterjemahkan mimpi Sultan Agung, tentang kedatangan seorang berbaju putih yang mengharuskan menyingkirkan empat orang terkemuka yang dapat menjadi duri dalam daging di Mataram. Temenggung Endratara membisikan siapa saja yang menjadi penghalang Sultan Agung.

Adipati endranata melemparkan isyu bahwa Pati akan mengadakan penyerangan terhadap Mataram.. Pargola memperluas wilayahnya dengan mengangkat enam Bupati MangunJaya, Kanduruwan,Raja Menggala, Toh Pati, Sawunggaling dan Sindurejo. Mereka ia bersumpah sampai titik darah penghabisan

Raja Sultan Agung memanggil beberapa adipati menghadap ke Mataram, raja menanyakan kenapa Adipati Pragola tidak menghadap. Temenggung Endranata menerangkan bahwa Pati tengah menyusun kekuatan dengan penguasa-penguasa pantai utara, kecuali Demak yang masih setia kepada Mataram, hal ini membuat murka Sultan Agung.

Raja mengatur pasukan sebelah kanan yang dipimpin Adipati Matralaya membawai pasukan Mancanegara, pasukan ini bermukim di Pekuwon Juwana. bagian timur sebelah kiri Pangeran Sumedang yang memimpin bagian barat. Orang-orang Madura memimpin bagian tengah, dibelakang itu rakyat dari Kedu, Bagelan dan Pemijen, pasukannya mendirikan benteng pertahanan di kaki Gunung Kendeng, di daerah Cengkal Sewu sebelah selatan Pati. Terakhir keluarga Raja yang memimpin pasukan-pasukan Pamejagan mataram. Pengawal pribadi terdiri dari 2.000 prajurit semua kapendak yang ada diantara mereka harus mengikuti raja.

Pasukan mengepung melewati Pajang dan Taji sehingga banyak penduduk berlarian menuju ke Kota Pati. Kadipaten Pati dikepung prajurit dari segala penjuru, pasukan telik sandi Pati melaporkan bahwa ada gerakan dari pasukan menuju Pati yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung. Adipati Pati mengumpulkan rakyatnya yang masih setia untuk berkumpul menyelenggarakan pesta. Untuk pengikutnya yang setia sebab esok akan mengadakan pertempuran habis-habisan.

Pasukan Pati mengenakan pakaian yang sama hitam-hitam, sedangkan rakyat berpakaian seadanya. Mereka berkumpul menunggu Adipati Pragola yang sedang siap-siap, ia mandi, mengenakan baju yang sangat bagus, melengkapi diri dengan pakaian-pakain pusaka (Kere Wojo), dan jimat pusaka.

Adipati Pati bersama pasukannya menuju sector kanan, Serangan Pati ditujukan pada sayap kanan pasukan Mataram yang berada dibawah pimpinan Matralaya, dalam pasukan itu juga ada Adipati Endranata berada. Pihak Mataram mengalami kekalahan besar, dihajar dengan pasukanPati dengan kekuatan penuh, sehingga pasukan Mataram ditarik mundur sampai daerah perbatasan. Sisa-sisa Pasukan Mataram kocar-kacir menyelamatkan diri, misalnya Raja Niti, Mangun Oneng dan Kertajaya. Mataram lari ke Kunduruan, Pasukan Mataram meminta pertimbangan dengan Eyang Kunduruan agar membantu pasukan Mataram, namun Eyang tidak mau sehingga terjadi penyerbuan di kenduruan. Eyang Kunduruan telah siap dengan pasukan penuh ditambah Pasukan dari Adipati Pati. Mereka bahu-membahu memukul Pasukan Mataram, Pasukan Eyang Kunduruan mengusir Pasukan Mataram sampai di luar desa.

Melihat kemenangan di tangan Adipati Pati Pragola, dalam pertempuran ini Temenggung Endranata melarikan diri dan membelot ke Pasukan Pati. Juga pusat dan sayap kiri pasukan Mataram menderita kerugian besar, Pasukan Sawung Galing berhasil memporakporandakan pasukan inti Mataram, sehingga hanya keluarga Raja dengan 2000 pengawal yang masih bertahan.

Adipati Pragola mengobrak-abrik strategi Kalajengking, dia menyerang Pasukan tengah menuju ke arah Susuhunan. Pasukan Temenggung Singanaru dihajar habis-habisan sehingga seluruh anak buahnya tewas, Temenggung Singanaru berlari menyelamatkan diri, ia kehilangan seluruh anak buahnya, sehingga menimbulkan keadaan darurat.

Pasukan Adipati Pati terlena, setelah memenangkan pertarungan, sehingga dia menarik pasukan Pati kembali ke markasnya, pengejaran terhadap Pasukan Mataram hanya sampai di tapal batas saja. Mereka tidak mengejar lagi karena menduga sisa Pasukan Mataram kembali ke Yogyakarta.

Raja Mataram memerintahkan mundur semua pasukan, untuk menyusun kembali Pasukan Mataram yang tersisa. Banyak Pasukan Mataram yang kocar-kacir kehilangan induk semangnya. Sultan Mataram memerintahkan Pasukan Mataram yang ada di tiga sector, sayap kanan, kiri dan tengah untuk tidak melakukan serangan, ditahan dulu pasukannya menunggu komando berikutnya.

Raja Mataram di dalam hutan, mengumpulkan para pemimpin pasukan untuk mengkaji ulang strategi perang, dan untuk menemukan stategi baru untuk menundukan Pati. kemudian memukul gong pusaka Kiai Bicak, tetapi tidak berbunyi. Ia kehilangan semangat dan berdoa kepada Allah, setelah itu gong berbunyi lagi dengan suara nyaring, ini menggobarkan semangat para prajurit Mataram, yang tadinya sudah mundur. Sekarang mereka maju lagi untuk bertempur.

Sisa Pasukan Mataram yang bertahan ditapal batas, dan pasukan yang masih di hutan Jepara, Purwodadi, Kudus bergabung kembali dengan Pasukan Sultan Mataram, setelah telik sandi menginstruksikan untuk segera merapat dan bertemu dengan pasukan Sultan Mataram, sambil menunggu bantuan dari Kerajaan Mataram yang akan menyerbu Surabaya, untuk dialihkan dahulu membantu Pasukan Mataram yang mau menyerang Pati.

Meskipun demikian, Adipati Pragola masih yakin akan kemenangannya. Ia mengadakan pembunuhan besar-besaran pada pihak Mataram. Raja Mataram segera mengirim pasukan tambahan dan mengarahkan pengawal dan keluarganya, yang dipimpin oleh Pangeran Purbaya dan keluarganya. Mereka merapat bergabung dengan sisa pasukan Mataram dengan menggunakan strategi kombinasi, mengecoh pertahanan Pati. Pasukan Mataram bergerak melawan Adipati Kunduruan di daerah Selatan, Prawirataruna, Temenggung Toh Pati dan Tumenggung Mangunjaya bertahan di arah timur, Tumenggung Sindurejo dan Raja Menggala bertahan di sector Barat melawan gempuran Pasukan Tumenggung Alap-alap. sedangkan Pasukan Tumenggung Sawunggaling kocar-kacir melawan pasukan inti, ia tertangkap Pasukan Mataram dan di ekskusi ditempat.

Meskipun demikian, Adipati Pragola dengan semangat menyala-nyala maju ke depan, tetapi Raja Mataram menyerahkan tombak Kiyai Baru kepada Lurah Kapedak, Naya Derma. Tepat ketika raja sekali lagi memukul gongnya Naya Derma menusuk Pragola sehingga mengakibatkan luka ringan sebelah kiri. Pargola jatuh dari kudanya kemudian ia bangkit, dan memacu kudanya keluar dari kepungan Pasukan Mataram. Dia berlari untuk merawat lukanya, ditengah jalan kudanya berhenti dan ia meninggal dunia di Sendang Sani. Mendengar Adipati Pragola wafat. Temenggung Endranata dan pasukannya membelot, menganggap ini suatu alasan untuk kembali ke Pasukan Mataram. Semua pasukan Pati dimusnahkan, juga mereka yang ditangkap hidup lebih suka memilih mati.

Raja memerintahkan agar jenazah Pragola ditegakan dan jimat-jimatnya diambil. Melihat percikan darah pada Kiai Baru, raja mengerti bahwa adiknya terbunuh dengan senjata itu.

Sementera itu Tumenggung Mangunjaya melarikan diri ke dalam istana dan menyampaikan berita kekalahan kepada para wanita disana juga kepada empat menteri jaga : Sura Prameya, Rangga Jaladra, Sura Antaka dan Pengalasan. Mereka bertempur terus sampai mati dengan 200 prajurit yang masih ada. Ini dilakukan dialun-alun, hanya Mangunjaya yang membawa berita kekalahan kepada para wanita, mereka cepat berlari meninggalkan Kadipaten Pati menuju ke Gunung Prawata. Melalui pintu belakang bersama putra mahkota yang masih muda.

Temenggung Alap-alap dengan beberapa pasukannya mengobrak-abrik Pasukan Pati, mereka merampok istana dan menguras habis istana bersama dengan pengikut-pengikutnya, kekayaannya dirampas dan rumahnya dibakar diratakan dengan tanah. ia memerintahkan untuk membawa para wanita ke Mataram.[3]

Sultan Mataram bertemu dengan adiknya yang juga istri Pragola, ia bertanya kenapa Pati harus memberontak terhadap Mataram, janda Pragola menceritakan bahwa Sultan Mataram dan Pragola Pati diadu domba oleh Adipati Endranata. Raja Mataram marah besar, sehingga ia memerintahkan Martalulut dan Singanegara untuk membunuh Adipati Endranata dan dipertontonkan ususnya di Pasar Gede.[4]

RORO MENDUT & PRANACITRO

Pasukan Mataram berhasil membumi hanguskan Kadipaten Pati. Tembok-tembok sebagai benteng runtuh di hancurkan Mataram. Semua harta kekayaan Kadipaten Pati di rampas di bawa pulang ke Mataram.[5] Termasuk boyongan gadis-gadis cantik dari pesisir pantai utara jawa.

Temenggung Wiroguno merupakan salah satu temenggung yang ikut dalm penyerangan Kadipaten Pati, ia memperoleh hadiah putri boyongan dari Pati, yakni Roro Mendut yang masih belia dan jelita. Tetapi Roro Mendut tidak sudi diperistri Wiroguno yang sudah renta itu.

Roro Mendut adalah seorang gadis cantik sehingga banyak pemuda-pemuda naksir kepadanya. Roro Mendut berpacaran dengan pemuda Pati Bernama Bagus Kemuda. Ada juga seorang pemuda asal Madura yang tinggal di Pati bernama Kuda Panoleh, yang mencoba mengganggunya. Namun rasa cintanya kandas karena ia menjadi boyongan Temenggung Wiroguno akibat Kadipaten Pati kalah perang.

Temenggung Wiroguno mencintai Roro Mendut, sehingga ia dibuatkan kaputren untuk ditinggali dengan mbok Mbannya. Roro Mendut selalu bermuram durja karena harus berpisah dengan kekasihnya yang harus mati ditangan orang-orang Mataram. Kesedihannya makin memuncak tatkala ia harus dibawa oleh Temenggung Wiraguno, orang Mataram yang telah merebut kebahagiaanya.

Roro Mendut tidak kuat menahan perasaannya, ia berencana untuk melarikan diri dari Kadipaten, untuk lepas dari cengkraman Temunggung Wiroguno. Pada suatu malam ia Berkemas-kemas mau minggat dari Kaputren.

Roro Mendut menjadi pelarian yang terus dikejar-kejar oleh Temunggung Wiroguno, berpindah-pindah tempat menghindari pasukan Temenggung Wiroguno, sehingga ia harus menyamar sebagai kawulo alit agar tidak dapat dihendus oleh telik sandi temenggung Wiroguno.

Ia memilih berjualan rokok di pinggir jalan yang ternyata laris sekali. Meski harga puntung rokoknya jauh lebih mahal dari pada rokok yang masih utuh, namun ternyata peminatnya justru membludak.

“Hai Roro Mendut mengapa sampai demikian ?” Tanya seorang pembeli yang amat penasaran.

“mau tahu sebabnya?, tentu saja karena puntung rokok itu bekas kena bibirku dan telah leceh dengan air ludahku yang manis dan harum!” jadi tegasnya, semakin pendek puntung bekas hisapan bibir sensual si Mendut, semakin nikmat citra rasanya. Puntung tersebut cukup lama dalam jepitan bibir hangat berliur.

Beberapa waktu kemudian, ia bertemu dengan salah seorang pelanggannya yang masih muda, gagah, tampan dan kaya. Pemuda tersebut Pranacitra, anak lelaki Janda Singobarong. Kemudian keduanya saling mabuk kepayang, bahkan sampai ke puncak asmara yang paling tinggi. Namun perselingkuhan mereka kepergok juga oleh Ki Wiroguno. Mereka diburu serta tertangkap di pinggir Kali Opak (sungai Opak) yang sedang banjir. Akhirnya Pranacitro tewas diujung keris Ki Tumenggung Wiroguno. Rara Mendut ikut Bela-Pati dengan menubrukkan badannya pada keris yang masih berlumuran darah dalam genggaman Tumenggung Wiroguno..”



[1]Pasukan Joyo Kusumo mengirim 3000 prajurit untuk menyerang rumah orang kaya tersebut. Hal ini didengar oleh Kiai Demang Laksamana kemudian membantu orang kaya tersebut dengan membawa 400 orang bersenjata dan seseorang pembesar Jepara membawa 300 prajurit.

[2] Pasukan Mataram terdiri dari 30.000 personil.

[3] Tumenggung Alap-alap bersama 1.000 prajurit merampok keraton Pragola yang masih dipertahankan 200 orang dan merampas wanita-wanitanya. Para wanita priyayi harus diangkut dengan tandu.

[4] Ada versi lain bahwa Adipati Alap-alap melakukan bumihangus di kadipaten pati, sehingga istri Pragola Pati, lari dikejar sampai ke barat Desa Puri, maka Desa itu dinamakan Matraman.

[5] Cerita ini sebenarnya berawal dari Karya sastra seorang Pujangga Keraton Kartosuro, pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono II (1727-1749), bernama R. Ngabehi Ronggo Janur, berjudul Serat Pranacitro.



SILSILAH ADIPATI PRAGOLA

(Versi Tutur Tinular)

Brawijaya V X Bodri Cemoro

(Bhre Kertabhumi) (Dayang)




Ki Ageng Tarub I




Nawangsih X Bondan Kajawan




Getas Pandawa X Putri Sunan Bejagung

(Dyah Depok)

Roro Kasihan X Sunan Ngerang Ki Ageng Selo









Dewi Rarayano X Sahid Kusumastuti Ki Ageng Genis

Sunan Muria I

Dewi Pujiwati




Kembang Jaya Sukmayana Ki Ageng Pemanahan

(Versi Babad Tanah Jawi)

Brawijaya V X Bodri Cemoro

(Bhre Kertabhumi) (Dayang)




Ki Ageng Tarub I




Nawangsih X Bondan Kajawan




Getas Pandawa X Putri Sunan Bejagung

(Dyah Depok)

Roro Kasihan X Sunan Ngerang Ki Ageng Selo










Ki Ageng Pati Ki Ageng Genis

(Ki Gede Cermo)

Ki Penjawi Ki Pemanahan

Kembang Joyo

Adipati Pati I




Jaya Kusuma I Rara Sari X Sutawijaya

(Panembahan Senopati)

Mas Jolang

(Panembahan Hanyakrawati)




Jaya Kusuma II X Ratna Sari Masrangsang

(Sultan Agung)

Cerita Rakyat : Tlatah Bumi Pati

VI

TLATAH BUMI PATI

BARON SEKEBER

Seorang Pria bernama Baron Sekeber[1] keturunan Spanyol yang berpetualang menjelajah dunia untuk mencari rempah-rempah di belahan dunia timur. Kapal nya pecah dihantam ombak Laut Jawa. Ia berenang menuju Pantai Utara Pulau Jawa. Jiwa petualangnya mengharuskan ia berusaha hidup melawan ganasnya alam. (Survival Alive). Sampailah ia di daerah Pati. Bajunya compang-camping di gulung Ombak Jawa. Rambut coklat mata biru menjadi perhatian penduduk setempat, dianggap orang aneh yang muncul dari permukaan air. Dia menggunakan bahasa isyarat bila berkomunikasi dengan penduduk setempat.

Baron kemudian tinggal di hutan daripada bergaul dengan masyarakat, karena penduduk masih menatap curiga terhadap Baron. Meskipun demikian Baron sering turun gunung untuk melihat-lihat keadaan Kota Pati. dia berkeliling desa,

Pada suatu ketika Baron Sekeber bertemu dengan seorang gadis yang bernama Rara Suli, ia langsung jatuh hati. Rara Suli adalah seorang gadis pendiam dari Desa Kemiri. Dia termasuk Gadis desa yang tidak laku rabi (kawin), kebanyakan gadis seusianya sudah berumah tangga. Baron Sekeber pun berkenalan dengan Rara Suli. Hanya gadis itulah yang mau berkomunikasi dengan Baron Sekeber, sehingga sangat akrab dan rar Suli mengajarinya Bahasa Jawa.

Sewaktu Rara Suli sedang berada di sungai, diketahui oleh Baron Sekeber, ia mendekati Rara Suli untuk diajak berhubungan intim layaknya suami istri. (diajak senang-senang, asyik-asyikan). Hal ini dilakukan berulang kali, akhirnya ada penduduk yang mencurigai glagat tersebut. Kemudian masyarakat setempat sepakat untuk menyelidiki Isyu tersebut.

Penduduk setempat pagi-pagi betul sudah berada di pinggir kali menanti kedatangan Rara Suli yang sedang mandi, selang beberapa detik kemudian menit kemudian datanglah Baron Sekeber keluar dan menemui Rara Suli yang sedang mencuci pakaiannya. Rara Suli melepaskan pakaiannya kemudian mandi bersama di dalam sungai. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, kelakuan mereka diketahui oleh masyarakat setempat dan petinggi Kemiri, mereka berdua ditangkap dan dilaporkan kepada Adipati Pati Joyo Kusumo.

Baron Sekeber bertemu dengan Jaya Kusumo, terjadilah Perang tanding, namun keduanya sama saktinya, keduanya tidak ada yang menang dan yang kalah. Kemudian Baron Sekeber pamit minta waktu selama 40 hari, ia kembali ke pasangrahannya dan mempersiapkan ilmu kanuragaan untuk melanjutkan lagi pertempuran ditempat itu juga.

Jaya Kusumo kalah dan ia mohon diri untuk kemudian pergi berguru di Padepokan Kunduruan Gunung Muria. Jaya Kusumo mengeluh pada gurunya, ia mengatakan pertempurannya dengan Baron Sekeber, kalah dalam pertandingan itu. Akhirnya ia minta bantuan kepada Bapa angkatnya, yabg berdomisili di Kunduran menjawab

“Joyo Kusumo kamu gak bisa menang, sama baron Sekeber kalau tidak saya Bantu”

“iya, Saya harus gimana?”

“Besuk saya tak buat mendung biar dia bosan, kemudian ajak lomba slulup lama didalam air, pasti dia tidak kuat, sedangkan kamu sudah saya buatkan gua untuk sembunyi dan bernafas.” Akhirnya keduanya bertemu untuk mengadakan lomba slulup, Joyo Kusumo telah berbuat curang. Baron Sekeber kalah, kemudian ia menjadi abdi Kadipaten Pati sebagai pengurus kuda Joyo Kusumo.

Roro Suli hamil dan melahirkan dua anak, diberi nama Jerwenda dan Janurwenda. Kejadian itu dilaporkan oleh petinggi Kemiri kalau ada wanita melahirkan tapi tidak punya suami. Roro Suli dibawa kekadipaten dan dihadapkan pada Bupati Pati untuk dimintai keterangan, stelah tiba dihadapan Bupati, nggak tahunya Bupati tertarik dengan Roro Suli.

Adipati Joyo Kusumo berhasil mengalahkan Baron, ia ingin melaporkan dan mengucapkan banyak terima kasih pada Eyang Kundurun, Joyo Kusumo menghadap ke Eyang Kunduruan dengan membawa kedua anak Rara Suli sebagai teman diperjalanan.

Sesampai di Kenduruan, kedua bocah itu tadi saling bermain sepuas hatinya, akhirnya dua bocah tadi masuk dalam padasan/tempat air wudhu. Saat bapa Kanduruan hendak mengambil air wudhu, kaget kok ada bocah bisa masuk dalam padasannya, dua orang lagi. Lalu kedua bocah tadi disuruh keluar. Joyo Kusumo ditanyai

“Ini anaknya siapa?”

Joyo Kusumo mengangguk bahwa Janurwendo dan Sirwendo adalah anaknya dengan Roro Suli, kemudian ia menceritakan kepada Eyang Kunduruan tentang pertemuannya dengan Rara Suli.

“Bukan ini tidak anakmu, ini anak Roro Suli dengan Baron Sekeber” Joyo Kusumo dibisiki bahwa kedua anak ini berbahaya bila hidup di Kadipaten akan merorong kewibawaan Joyo Kusumo. Mereka memiliki kesaktian yang diturunkan bapaknya.

Mendengar cerita itu Joyo Kusumo menjadi bimbang, kemudian ia mau menguji kesetian kedua anaknya, dengan pura-pura tidur, sebelumnya ia berpesan agar ketika dia tidur jangan sampai ada nyamuk yang menggigitku.

Joyo Kusumo tidur ditunggui kedua anak tersebut, Janurwendo membuat panah dari batang daun padi untuk memanah nyamuk. Keahlian memanah yang diajarkan oleh Baron Sekeber. Sehingga tepat sekali dalam mebidik sasarannya. Setelah Jaya Kusumo bangun heranlah dia,

“lho kok banyak nyamuk yang mati kena panah Padi, siapa yang memanahnya?”

“Saya Romo” jawab Janurwendo, Joyo Kusumo teringat pesan Bapa Kunduruan, kalau bocah ini bakal dapat merorong kewibawaanya, terus berpikir bagaimana caranya kedua anak ini mati. Lalu kedua anak ini dikejar-kejar, lama-lama bertambah besar dan trengginas kedua bocah tadi. Bapa Penjalingan, patihnya Joyo Kusumo lalu mencolot mak Blebet, maka desa itu dinamakan Bleber. Janurwendo dikejar dan dikenai senjata Jiglog. Maka menjadi desa Jiglog. Kemudian patih Penjalingan melapor pada Adipati Joyo Kusumo kalau keadaan sudah aman,


ADIPATI PRAGOLA I

Sultan Pajang Hadiwijoyo menghadiahi dua wilayah yaitu Alas Mentaok dan Bumi Pati. Kepada ke empat orang yaitu Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi, Juru Mertani, dan Sutowijoyo (anak Ki Ageng Pemanahan), mereka telah berhasil membunuh Aryo Penangsang Penguasa Jipang Panolan. Ki Ageng Penjawi mendapat Alas Mentaok sedangkan Ki Pemanahan, Ki Juru Mertani, Sutowijoyo mendapan Bumi Pati, namun Ki Pemanahan memohon kepada Hadiwijoyo untuk menukar hadiah tersebut. Ki Ageng Pemanahan menginginkan Alas Mentaok dan ditukarkan wilayah Bumi Pati kepada Ki Ageng Penjawi.[2]

Ki Penjawi menerima permintaan Ki Ageng Pemanahan, untuk lebih mengakrapkan dua wilayah tersebut, Ki Penjawi besanan sama Ki Ageng Pemanahan yaitu mengawinkan Sutowijoyo dengan putri Ki Ageng Penjawi kakak Joyo Kusumo.

Joyo Kusumo sering membantu Sutowijoyo dalam bertempur melawan Madiun. Ketika Panembahan Senopati menggunakan taktik perang supit kalajengking, Pangeran Mangkubumi Disayap kiri, Pangeran Singasari dan Demak di sayap kanan. Sedangkan Panembahan Senopati, Joyo Kusumo bersama Adipati Pajang membantu menyerang dari tengah dibawah pimpinan Mandaraka.[3]

Akhirnya Madiun jatuh, terjadi pembumihanguskan Wirasaba semua rampasan dibawa ke Mataram, termasuk putri cantik Retna Jumilah yang sebelumnya mengadakan perlawanan dengan menyamar sebagai kesatria menantang Sutowijoyo, namun Retna Jumilah dapat ditundukan kemudian diboyong ke Mataram.[4]

Adipati Pati berkunjung ke Pati untuk melihat kakaknya, Pemboyongan Putri Madiun ke Istana membuat Adipati Joyo Kusumo tidak senang, Ia teringat nasib kakak perempuannya Rara Sari yang akan dimadu, dan tersisihkan oleh kehadiran Retno Jumilah di keraton. Kakaknya menyuruh Adipati untuk bersabar. sehingga ia mohon pamit dahulu untuk kembali ke Pati.[5]

Adipati membangun Kota Pati agar menjadi kadipaten yang kuat dan makmur, bersama pasukannnya dia menciptakan pasukan yang tangguh. mereka juga melatih prajurit-prajurit baru yang diambil dari rakyat Pati. Mereka dilatih menggunakan senjata untuk berperang melawan musuh-musuh Pati. Rakyat pati sangat segan dan bangga dengan Adipati, yang membawa kemajuan Kadipaten Pati.

Dalam perjalanan waktu Adipati Jaya Kusumo sering berkunjung ke Mataram untuk melihat keadaan kakaknya, sikap kakaknya yang terlalu pasrah mengabdi sebagai istri setia, terhadap Panembahan Senopati, dia menghadap ke Mataram dengan mengendarai Kuda pilihan yang bagus.[6] Sehingga membuat Sultan Mataram tertarik untuk memiliki, maka sultan menukar kuda itu dengan Kerbau dan diberi nama Pragola, sepanjang perjalanan ia diolok-olok sama anak kecil

“Raja Pati miskin kendaraannya kerbau...., masih kaya Raja Mataram kendaraannya kuda”.

Joyo Kusumo pulang dengan perasaan dongkol, namun karena persaudaran yang telah dibangun diantara keduanya, maka Joyo Kusumo hanya bisa sabar.

Sultan mengundang para adipati ke Mataram, namun Joyo Kusumo tidak hadir, karena Adipati lebih konsentrasi pada pembenahan kota Pati ia sibuk dengan kegiatan di Kadipaten Pati sehingga lupa untuk hadir ke Mataram. Dalam pertemuan di Mataram, terkadang diwakilkan oleh anak buahnya.

Suatu ketika Adipati Joyo Kusumo I merintahkan anak buahnya untuk menghadap ke Mataram guna menayakan hak atas tanah pedesaannya di sebelah Utara Pegunungan Kendeng dan juga meminta 100 tombak. Akhirnya Panembahan Senopati menyerahkan senjata yang diminta Joyo Kusumo tapi tidak disertai dengan sarungnya, hal ini membuat Adipati Joyo Kusumo sebagai bentuk penghinaan dan menganggap Mataram mau menantang perang dengan Pati.

Setelah utusan Pati kembali dan menghadap Joyo Kusumo, maka oleh beliau diperintahkan mempersiapkan pasukan untuk mengadakan pembersihan didaerah perbatasan dan mengadakan pelucutan senjata di daerah utara Pegunungan Kendeng, semua menyerang dan tunduk kepada Joyo Kusumo. Kecuali Demak yang masih bertahan di Benteng, dan pasukannya kecil sehingga tidak menjadi perhitungan Joyo Kusumo.

Joyo Kusumo memiliki banyak prajurit, mereka berkumpul untuk mengadakan perlawanan dengan Mataram. Sepanjang perjalanan menuju Mataram, mereka melucuti senjata, menjarah dan menaklukan semua desa yang dirampas oleh Mataram. Desa tersebut dimerdekakan dan disuruh membantu untuk menyerang Mataram.

Adipati Pajang melaporkan kondisi yang terjadi di daerah perbatasan Mataram dengan Kadipaten Pajang, bahwa Adipati Pati telah masuk ke wilayah pajang dan mengobrak-abrik Kadipaten, sehingga banyak prajurit yang lari menyelamatkan diri.

Sudah tiga kali Joyo Kusumo tidak hadir di Mataram dan tidak mengirimkan persembahan (upeti) kepada sultan. Kemudian datanglah utusan Mataram ke Kadipaten Pati. Untuk menanyakan kabarnya Adipati Pragola II.

Akhirnya Kerbau yang pernah di berikan kepada Pragola itu dipotong kepalanya kemudian dibungkus dengan kain merah. Kemudian Patih Penjalingan disuruh untuk menyerahkan kepada Mataram. Marahlah Sultan Mataram sehingga ia memerintahkan pasukannya untuk berangkat ke Kadipaten Pati.

Panembahan Senopati mau turun langsung menghadapi Adipati pati, namun berhasil dicegah oleh istrinya yang juga merupakan kakak perempuan Adipati Pati, ia mengusulkan biar anaknya saja Raden Rangga yang dikirim untuk menemui Joyo Kusumo. dengan maksud agar tidak terjadi perang, dan ditempuh dengan jalur damai.

“Biar Pangeran Mahkota saja yang akan menanyai apa maksud Pamannya mempersiapkan prajurit di tapal batas dan membuat huru-hara di Pajang.” Bujuknya Istri Panembahan Senopati, sebab bila Panembahan Senopati yang turun tangan langsung maka tak hayal lagi perang akan terjadi.

Pangeran Mahkota di kirim ke perbatasan dengan pengawalan prajurit yang amat banyak, kemudian mereka bergerak ke Prambanan sedangkan pasukan Pati bergerak ke Kemalon. Masing-masing beristirahat kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang. Diperbatasan antara Waliyah Pajang dengan Mataram, Pangeran Mahkota diperintahkan Panembahan Senopati untuk segera menemui Pamannya Joyokusumo, ia dikawal hanya dengan beberapa pasukan yang membawa panji-panji Kerajaan Mataram.

“Hay kemana bapakmu.. tidak berani kesini..takut bila bertemu adik iparnya” Joyo Kusumo mengejek keponakannya. Sehingga darah mudanya mulai naik.

“paman, saya disuruh Romo untuk mengantar paman untuk menghadap ke Mataram” Pangeran Mahkota balas menyindir pamannya yang dianggap telah mbalelo terhadap Mataram. Panji-panji Mataram yang sedikit berkibar ditengah ribuan pasukan Pati.

“Saya tidak mau kesana, kalau bapakmu mau ketemu saya suruh dia kesini, biar saya kasih tahu bagaimana caranya menghormati orang” sikap membangkang ini seringkali dilakukan oleh Joyo Kusumo terhadap Mataram, tapi kemudian reda kembali karena masing2 pihak ada yang menahan, di Mataram ada Ki Juru Mertani sedangkan di Pati juga diredakan oleh para sesepuh termasuk keluarga. Namun kali ini kemarahan Joyo Kusumo tidak bisa ditahan lagi. Akhirnya Perang adalah solusinya.

“Tapi paman, alangkah baiknya bila paman yang datang kesana, sebab Romo adalah raja agung yang membawahi Bumi Jawa, bukankan paman bawahannya romo” Pangeran Mahkota meremehkan penguasa Pati.

“ Saya tidak mau kesana, Bumi Pati adalah bumi merdeka tidak menjadi bawahan Mataram” kuping Pangeran Mahkota menjadi merah mendengar ucapan Adipati Pati. Dia mengambil tombak dan dihujamkan berkali-kali di dada Adipati.

“Terus nang, habiskan tenagamu untuk menusuk saya, aku tidak mundur!, bocah kemarin sore aja sudah berani sama orang tua!” Adipati tertawa terbahak-bahak melihat keponakannya yang menusukan tombak ke dadanya berkali-kali. Adipati tidak terluka sedikitpun karena tubuhnya memakai pusaka “Kere Wojo” pemberian baron Sekeber. Gantian keponakannya yang dipukul dengan gagang tombak sehingga ia terpental jatuh dari kudanya.

“Bilang sama bapakmu, Bila Panembahan Senopati laki-laki tak tunggu diperbatasan. Siapa yang dianggap penguasa Jawa, saya tantang dia sebagai seorang laki-laki, tunjukan kestriamu, jangan anak ingusan yang dikirim!” Pangeran Mahkota tergeletak di tanah hampir saja diinjak oleh kaki kudanya sendiri. Pasukan Mataram membawa Pangeran Mahkota yang terluka akibat ganggang tombak. Mereka kembali ke Prambanan.

Adipati Pati I menyerang hingga pasukan Mataram kabur melarikan diri, mereka mengejar sampai perbatasan, Adipati teringat pesan sang guru Ki Ajar Pulo Upih (guru spiritual yang berasal dari Pulau Mandoliko). Ia menunggu di daerah Prambanan berbulan-bulan,. Namun pasukan Mataram belum datang. Akhirnya ia pulang dulu untuk bertemu dengan kawulanya.

Pragola kembali ke Desa Dengkeng, ia bersama prajurit membangun kubu pertahanan dari batang pohon-pohon kelapa. Ia menunggu kedatangan Panembahan senopati ke Dengkeng. Panembahan Senopati marah besar sebab Adipati Pati telah berani memukul anaknya yang sekaligus keponakan Adipati-Pati sendiri.

Setelah siuman Pangeran Mahkota lapor kepada Romo dan ibunya. Ia mengadu kepada orang tuanya, bahwa ia telah diperlakukan kekerasan sehingga dapat melukai wajah tampannya. Pangeran Mahkota merasa sakit hati akibat ejekan tersebut... Mendengar laporan itu Adipati Pati marah. terpancing emosinya, memberitahukan kepada istrinya,. kondisi ini dimanfaatkan Panembahan Senopati untuk menjelek-jelekan Kakak ipar dihadapan istrinya.. Sehingga ia memohon, kepada istrinya agar segera mengijinkannya menuju ke medan perang.

“Kalau begitu saya tidak keberatan bila Adipati Pati dibunuh, karena dia sudah tidak sayang lagi kepada keponakanya sendiri” Panembahan Senopati berangkat perang dengan naik kuda, beristirahat di Prambanan. Pada tengah malam ia melanjutkan lagi berangkat menuju ke Kadipaten Pati. Di luar Benteng Pragola, pasukan Mataram berteriak-teriak Dan Kyai Bicak dipukul bertalu-talu.

Keris Culik Mandaraka milik Panembahan Senopati merupakan pusaka sakti berhasil mematahkan tiga batang pohon kelapa yang dijadikan benteng pertahanan. Kemudian Panembahan Senopati bisa memasukinya dengan mengendarai kuda, mengocar-ngacir Pasukan Pati.

Adipati Pati mundur kembali ke Pati, kemudian ia mengumpulkan Bupati-bupati disekitarnya untuk memepersiapkan pasukan untuk menyerang kembali ke Mataram. Pada saat prajurit Pati berangkat kembali ke perbatasan, terjadi bencana alam Gunung Meletus, daerah Dengkeng yang dijadikan benteng pertahanan Pasukan Pati dialiri lahar panas, sehingga banyak pasukan di kedua pihak yang mati terkena letusan gunung berapi. Perang mengalami jeda beberapa hari.

Pasukan Mataram masih mengejar sisa-sisa Pasukan Pati yang masih membikin keributan di daerah perbatasan. Sementara itu Adipati pati bersama sisa-sisa pasukan menuju ke Gunung Pati di desa Palalangan, mereka menghindari letusan gunung berapi selain itu untuk menyusun kekuatan menyerang Mataram kembali.[7]



[1] Cerita Baron Sekeber berasal dari Babat Pati, dan banyak cerita tutur yang berkembang di daerah Pati.

[2] Hal ini teringat pesan yang pernah diramalkan oleh Sunan Giri, bahwa nanti daerah alas mentaok akan menjadi Kerajaan besar.

[3] Taktik ini juga diterapkan Mataram menyerang Pati, Pangeran Diponegoro juga memakai strategi ini untuk melawan Belanda.

[4] Sehingga ada sendratari yang menggambarkan perangnya Panembahan Senopati dengan Retno Djumilah.

[5] Adipati pulang ada beberap versi yaitu ada yang bilang ke pulangannya ke Pati karena tidak tahan melihat Panembahan Senopati yang bersenang-senang dengan Retna Jummilah ketika perang baru selesai. Versi kedua Bahwa Adipati Joyo Kusumo pulang karena takut akan kekuasan Panembahan Senopati, yang rakus kekuasaan,

[6] kuda yang dikendarai Adipati Pati dipelihara oleh Baron Sekeber, karena kalah bertanding dengan maka Baron Sekeber dijadikan Tukang rawat Kuda Adipati.

[7] Kematian Adipati Pati pada tahun 1600 masih menjadi misteri ada 3 versi ; versi pertama ia meninggal di Gunung pati, ada versi kedua ia ikut mati terkena bencana Alam, versi ketiga ia dibunuh oleh Panembahan Senopati. Jatuhnya kadipaten Pati menjadi membuat kerajaan Mataram dipersalahkan atas terjadi tragedy itu. Tentara Anaknya Panembahan Senopati dianggap sebagai biang keladi sebab berdasarkan laporan, maka terjadilah perang antara Pati dan Mataram tidak bisa dihindari